Rabu, 04 Agustus 2010

Om Swastyastu mudah-mudahan bermanfaat TUNTUNAN PRAKTIS PIṬṚA YAJÑA * (SHRI DANU DHARMA PATAPAN) I WAYAN SUDARMA** MAPENDEM 1. NYIRAMANG LAYON/MEMANDIKAN JENAZAH Perlengkapannya: Pepaga (tandu) Ulap-ulap yaitu: secarik kain putih yang dibentangkan di atas tempat memandikan di natar pekarangan. Air penyiraman (air tawar, air kumkuman). Alat-alat pengringkesan (panglelet), jika mungkin dapat diusahakan : kramas, kakrik, pablonyoh putih kuning, bunga gadung, daun tunjung, kapas, daun intaran, bunga menur, waja, daun terong, pecahan cermin, bunga-bungaan, bebek(oreh/anget-anget), ampok-ampok, kwangen, angkeb rai, tempatkan pada satu tempat. (catatan: alat-alat ini bisa kita ganti dengan peralatan mandi modern) Selain yang tersebut di atas, yang perlu ada ialah : Tirtha dari Kahyangan tiga (jika kahyangan yang dimaksud sudah berdiri). Tirtha dari kahyangan sesuhunan yang bersangkutan. Tirtha pabersihan, Tirtha penglukatan. Catatan: Jika semua kahyangan tersebut di atas belum ada dirikanlah Sanggah Pengayengan yang bersifat sementara, dan dari sanalah ngayeng Hyang sesuhunan-sesuhunan. Yang patut melaksanakan ini ialah : Pedanda (jika ada) Pemangku Pura Dalem/Prajapati (jika ada) Panglisir-Panglisir di tempat itu (yang umurnya paling tua di antara keluarga itu). Penjelasan : Jika ada pedanda, tirtha-tirtha, baik pangentas, pengelukatan, pabersihan, penembak dan lain-lain, langsung beliau yang membuat dengan Pujanya yang berlaku untuk itu. Jika yang ada hanya Pemangku Dalem dan yang sederajat dengan itu, maka semua tirtha-tirtha yang dipergunakan, harus melalui Ngelumbung, yakni dengan memohon melalui pengastawa (sesontengan/seha) kepada Hyang Widhi/Bhatara baik secara ngayeng, (pelinggih sementara) maupun menghadapi pelinggih yang sudah ditetapkan. Jika yang ada hanya pengelingsir/yang sederajat dengan itu, maka Tirtha-tirtha dilakukan dengan ngelumbung. Pelaksanaan Memandikan Mayat : Menurunkan mayat dari balai-balai : terlebih dahulu mayat diturunkan dari balai-balai, lalu diusung ke natar, dimana telah dipasang pepaga. Setelah mayat dibuka rurubnya (dalam keadaan telanjang) pertama kali disiram dengan air tawar, dibersihkan seperlunya seperti mandi umum dengan menggunakan sabun mandi, dikeramas dengan shampo, dan sikat gigi. Dalam tahap kedua mayat disiram lagi dengan air harum/kumkuman (air tawar bercampur wangi-wangian). Memasang reramuan. Yang dinamakan reramuan ialah : gadung, kapas, wangi-wangian, dan lain-lain. Jadi setelah selesai memandikan maka diselenggarakan : Makerik kuku pada jari kaki dan tangan Kedua ibu jari kaki diikat menjadi satu dengan benang (me-itik-itik). Kedua ibu jari tangan diikat menjadi satu (me-itik-itik) dan dipasang sebuah kwangen dengan jinah 11 keteng, sebagai kwangen pangubaktian Masigsig, makramas. Pablonyoh : - yang putih tempatnya di kepala dan yang kuning tempatnya di kaki. Eteh-eteh : Lanjutankan dengan memasang sarana-sarana pada tubuh mayat sebagai berikut : Daun intaran dipasang pada kening Gadung dipasang pada dada Pusuh menur dipasang pada lubang hidung Cermin dipasang pada kedua matanya Waja dipasang pada giginya Daun terong dipasang pada kemaluannya (untuk laki-laki) Daun tunjung dipasang pada kemaluannya (untuk wanita) Catatan: alat-alat ini dapat ditaruh di samping jenazah Bebek-bebek : Bebek-bebek ini ialah bahan bedak (boreh atau anget-angetan) dipasang pada perutnya. Lengawangi : Lenga wangi, ialah minyak harum, bedak wangi yang dipasang pada tubuh mayat. Kwangen-kwangen : 1 buah di kepala menghadap ke bawah. 1 buah di hulu hati. 1 buah di dada. 2 buah letakan di kedua siku kanan dan kiri. 2 buah letakkan di kedua lutut kanan dan kiri. Mawastra (memakaikan kain) Kemudian mayat itu dipasang kain selengkapnya (diusahakan berwarna putih), dan secara simbolik berfungsi akan persiapan muspa, (tidak dikerubungi seluruh tubuhnya melainkan sebagian bawah saja). Maktiang ke Surya Setelah lengkap semuanya maka yang bertugas menjalankan upacara tersebut, memohon kehadapan Hyang Siwa Raditya, tirtha pangelukatan, pabersihan. Barulah mayat itu diperciki tirtha pengelukatan, pabersihan dan tirtha penyungsungan yang meninggal. Banten arepan : Setelah menyembah kehadapan Hyang Siwa Raditya, (Hyang Surya) maka mayat lalu dihayap dengan bebanten yang disebut ”Bubur Pitara, nasi angkeb, saji, dan yang lainnya”. Sebagai tanda perpisahan, maka kaum kerabat yang ditinggalkan menghadapai banten yang letaknya di dekat kaki orang yang meninggal dunia. Banten itu disebut : Banten Sambutan/”Mapegat”. Maka keluarga itu mula-mula menyembah ke Surya, kemudian kepada yang meninggal. Barulah mayat itu dilelet (dibungkus), dengan kain, kemudian dengan tikar/klasa, lalu dengan tali kendit, /ante bambu dan akhirnya dengan kain putih. 2.MENDEM SAWA. Sebelum mayat itu di pendem dilakukan sebagai berikut : Mayat dibuka, baik tikar maupun kain pengeleletnya dan tali kendit /ante. Lalu diperciki Tirtha-tirtha oleh pelaksana Upacara, yakni : Mula-mula: Tirtha Pengelukatan, kemudian Tirtha pabersihan, dilanjutkan dengan Tirtha pengentas yang dimohon dengan ngelumbung oleh petugas, dan terakhir di perciki tirtha Kahyangan penyungsungan yang meninggal, Tirta Kahyangan Tiga. sebagai tanda selesainya upacara mendem sawa, maka di setra tersebut dilakukan upacara sebagai berikut : 3.MAKTIANG Upacara terakhir dalam mendem Sawa ialah para keluarga yang ditinggalkan melakukan pengubaktian pamuput 4.SELESAI MAGESENG Tata cara Pelaksanaan Ngeseng Sawa terhadap mayat, terdapat beberapa hal yang sama dengan tata cara pelaksanaan ”Mapendem” Sawa, antara lain sejak dari meninggalnya hingga mengusung ke Setra, maka dalam bab ini tidak diuraikan lagi. Sebagaimana mestinya. Dalam atiwa-atiwa yang dilakukan dengan ”megeseng” maka ditempuh dua proses, yakni : Proses pengembalian badan wadag (stula sarira) kepada unsur-unsur Panca Maha Bhuta. Proses pengembalian roh (atma sarira), kepada asalnya yaitu Paramatman. Dalam pengertian pengembalian badan wadag kepada unsur-unsur Panca Maha Bhuta, yang dilakukan dengan “Megeseng”, terjadi dalam beberapa bagian yaitu : 1. SAWA WEDANA. - Ngeseng sawa secara langsung dengan segala upacaranya. 2. ASTI WEDANA - Ngeseng patulangan yang sebelumnya pernah dipendem, digeseng dengan segala upacaranya. 3. SWASTA. - upacara atiwa-tiwa terhadap mayat yang tidak mungkin dijumpai lagi, sehingga mayat diwujudkan dengan badan-badan lain, antara lain : lalang, air, dan lain sebagainya. TATA CARA PELAKSANAAN. SAWA WEDANA : Tatacara ngeseng sawa dalam waktu singkat, (sawa wedana), yang menurut smrti-smrti Yama Purwana Tattwa dan Purwa Phuba Sasana, dibenarkan. Tatacara mana disebut : Mapendem ring geni, dan magenah ring patulangan. Adapun tata cara yang diuraikan di sini ialah setelah sawa itu tiba di Setra, (sebelum ke Setra, tatacaranya sama dengan sawa yang mependem). setelah tiba di Setra, Sawa yang diusung menglilingi bale pebasmian, (tempat membakar) tiga kali (praswya). Kemudian sawa diletakan pada tempat pangesengan, dan tali kendit/ante diputuskan, dengan belakas yang telah disiapkan yang khusus untuk itu. a. Matirtha. Kain pengerubung bagian kepala sawa itu dibuka, dan bentangkalah kain putih di atasnya (kase penyaringan toya) untuk tempat menuangkan Tirtha : Tirtha Penembak/pemanah. Penglukatan. Pengentas. Tirtha dari sesuhunan, kahyangan tiga. b. Mageseng. Sebelum sawa digeseng, letakanlah didadanya upacara-upacara : Bubur Pirata putih dan kuning, dua tanding, canang 7 tanding, beras empat warna (putih, merah, kuning, hitam) masing-masing satu ceper. Setelah sawa itu diupacarai dengan upakara-upakara tersebut di atas, kemudian petugas upacara memegang taru pamuhun yang telah dinyalakan dengan api upacara, lalu digeseng hingga basmi. Perlu diingat bahwa selama sawa itu digeseng, tidak wajar dianiaya yaitu dipotong-potong dan sebagainya, biarlah ia basmi pada saatnya. c. Panyeeb. Kalau sawa itu telah basmi, tuangkan tirtha yang terdiri dari air tawar sampai apinya musnah. Air inilah yang disebut panyeeb. d. Ngereka. Setelah sawa itu hangus menjadi abu, lalu dilakukan pengerekean sebagai berikut : Pungut sekedar abu tulang itu, ditempatkan pada pawai anyar (sesenden) dan tuangi air jernih dan air kumkuman. setelah abu itu hancur, tuangkan pada sebuah kelapa gading, yang telah dikasturi dan diwujudkan dalam Puspa asti. Abu-abu yang isinya direka seperti bentuk manusia, kemudian diisi kwangen Sebagai berikut : - di ubun-ubun : 1 buah. - di dahi : 1 buah. - di kerongkongan : 1 buah. - hulu hati : 1 buah. - pusat : 1 buah. - antara pusat dan kemaluan : 1 buah. - antara kemaluan dengan pantat : 1 buah. - di mata : 2 buah. - di telinga : 2 buah. - di hidung : 2 buah. - di mulut : 1 buah. - di tangan sebagai pengubhakti : 1 buah. - di kaki : 2 buah. - di tangan : 2 buah. - di perut : 1 buah. - di kemaluan : 1 buah. - di pantat : 1 buah. Jumlah : 22 buah. Kemudian disiapkan banten : Daksina pejati selengkapnya, baik untuk di Prajapati, Pengulun Setra, juga Bubur Pitara, nasi angkeb, banten arepan, ketupat panjang, dius kamalingi, puspa, rantasan untuk rerekayan. Kemudian penyelenggara upacara memuja melakukan persembahan keluarga yang meninggal. Ditujukan kepada Hyang Surya, Prajapati, Kahyangan Tiga dan Sasuhunan, maka barulah rerekayan itu dibungkus, kemudian diusung ke sungai (laut). Sampai di laut (sungai) terlebih dahulu diupacarai dengan banten: Daksina, Peras penganyutan, dan wangi-wangian, terakhir barulah abu dibuang ke laut/sungai. ASTI WEDANA Kalau ada mayat yang telah lama dipendem, kemudian ada niat untuk ngaben, jelaslah tidak mungkin dapat lagi mreteka sawa orang yang diaben itu seperti sawa yang baru, hal ini dapat dilakukan dengan mengupacarai tulangnya (galih), kalau masih mungkin didapat. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut : Atur piuning ke Pura Dalem (mempermaklumkan). Buatlah terlebih dahulu simbol orang yang akan di aben, berupa tegteg. Tegteg ini di usung ke pura Dalem disertai banten : Peras, Penyeneng, daksina, Suci, ketupat dan segehan. Ngulapin ke Prajapati. Setelah selesai di Pura Dalem lalu Tegteg itu tuntun ke Prajapati, disertai upacara : Peras, Daksina, Pengulapan, Pengambeyan, segehan, dan sesayut. Ngangkid. Kelanjutan dari bagian (a) dan (b) itu ialah : bahwa tegteg itu diusung ke setra tempat orang yang akan diaben itu di pendem. Di atas bambang itu diselenggarakan upacara ngangkid yaitu : Suci, peras, penyeneng, punjung, daksina, segehan, berisi isin jejeron, (daging mentah), Yaitu : darah, serta tetabuhan: tuak, arak. Bambang dibongkar untuk mendapatkan tulang-tulang, lalu tulang-tulang itu dikumpulkan pada suatu tempat yang telah disediakan di setra, (tidak boleh di bawa pulang) Pada bambang yang telah dibongkar, lakukan upacara sekedar, dengan banten: suci, peras, daksina, dan sembelih ayam bulu hitam. Lalu bambangpun di timbun kembali Ngeringkes. Adapun banten ngeringkes yang serupa ini pun sama dengan ngeringkes seperti tersebut di depan. Ngeseng. Sama dengan cara ngeseng seperti di depan. Nganyut. Sama dengan cara seperti nganyut di depan. SWASTA Swasta adalah pelaksanaan atiwa-tiwa terhadap orang yang meniggal dunia, yang tidak mungkin ditemukan lagi bekas-bekasnya ( karena telah lama dipendem, juga karena terlalu jauh). Atiwa-tiwa yang tergolong dalam ”SWASTA” adalah sebagai berikut : Racadana atau Tirtha Yadnya Pranawa. yakni sawa itu diganti dengan simbol Tirtha (Toya Sarira). Sedangkan mengenai tata pelaksanaannya sama dengan tahap-tahap pelaksanaan Atiwa-tiwa Asti Wedana. Baik dari matur piuning ke Pura Dalem, sampai dengan nganyut. Hanya terdapat beberapa perbedaan-perbedaan, yang antara lain : Kalau Asti Wedana ada tahap ngangkid, tulang-tulang, sedangkan Swasta tidak ada. Jadi yang diringkes dan lain-lain adalah Tirtha itu sendiri. NGELUNGAH Kecuali upacara Pitra Yajna, baik mependem maupun megeseng, seperti tersebut di depan, yang dilakukan terhadap sawa orang yang dewasa, maka terhadap sawa anak-anak pun disebut pitra yajna, karena yang diupacarai adalah ”A r w a h”. Untuk Atiwa-tiwa bagi anak-anak diatur sebagai berikut : a. Anak-anak yang telah tanggal gigi, sama dengan orang dewasa. b. Bagi bayi yang berumur di bawah tigang sasih, dilakukan dengan pependem saja, tanpa upakara (tidak boleh di geseng) c. Bagi anak-anak dan bayi yang belum tanggal gigi, lalu meninggal dunia, kemudian berkeinginan mengadakan atiwa-tiwa, maka upacara itu disebut ”ngelungah”. Tata cara pelaksanaannya : Piuning ke Pura Dalem, Bantennya : Canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telur bukasem, segehan putih - kuning Piuning ke Prajapati, Bantennya : Canang, ketipat, daksina, peras. Piuning ke Sedahan Setra, Bantennya : Canang Meraka, ketipat kelanan. Piuning Bambang Rare, Bantennya : Sorohan, pengambeyan, pengulapan, peras, daksina. Klungah Nyuh Gading disurat : ”OM KARA” Banten kepada roh bayi : bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, punjung, dan banten bajang. Tirtha pengrapuh yang dimohon di Pura Dalem dan Prajapati. Setelah banten-banten tersebut di atas semuanya ditempatkan di atas gegumuk bambang, maka yang menjalankan upacara mulailah memuja, untuk memohon kepada Bhatara/Bhatari, secepatnya roh si bayi kembali suci. Kemudian setelah selesai memercikan tirtha-tirtha semuanya di atas bambang, maka bambang pun di ratakan kembali, sehingga tidak tampak gegumuk lagi. Demikian juga bebanten-bebanten itu di timbun (dipendem). BEBERAPA BUAH MANTRA: Doa Mendengar ada Kematian: OM VAYUR ANILAM AMRTAM ATHEDAM BHASMANTAN SARIRAM OM KRATO SMARA KLIBE SMARA KRTIR SMARA- Ya Tuhan penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat viaksara suci OM, semoga ia mengingat Engkau yang mahakuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu. (Yajurveda XL.15) Doa Magebagan/Ngelayat: Om swargantu pitaro dewah, swargantu pitara ganam, swargantu pitarah sarvaya namah swadah Om moksantu pitaro dewah, moksantu pitara ganam, moksantu pitarah sarwaya namah swadah Om suniyantu pitaro dewah, suniayantu pitara ganam, suniyantu pitarah sarwaya namah swadah Om Bhagyantu pitaro dewah, bhagyantu pitara ganam, bhagyantu pitarah sarwaya namah swadah Om ksamantu pitaro dewah, ksamantu pitara ganam, ksamantu pitarah sarwaya namah swadah (Sumber: Ketetapan PHDI Pusat & Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, 2004) ATAU: Om swargantu, moksantu, sunyantu, murchantu sarwa pitara Om ksama sampurnaya namah swadah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar